Mahkamah Konstitusi (MK) menggelar sidang ke V untuk perkara uji materi UU Pilkada Nomor 8 Tahun 2015 Pasal 7 Huruf R dan Huruf S yang diajukan oleh Adnan Purichta Ichsan, Lanosin ST dan Dr Ali Nurdin dengan agenda mendengarkan keterangan Ahli Pemohon.
Blundernya Pasal 7 Huruf R Tinjauan Rifqinizamy Karsayuda
Ahli yang akan dihadirkan adalah Dr. M. Rifqinizamy Karsayuda, SH., LLM. dosen Hukum Tata Negara dari Universitas Lambungmangkurat, Banjarmasin, Alumni Universitas Kebangsaan Malaysia, dan Nico Harjanto, Ph.D., Dosen Pascasarjana Paramadina, Ketua Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (PERSEPI), Direktur Eksekutif POPULI CENTER, dan Alumni Northern Illinois University, USA.
Menurut Dr. RifqinizamyKarsayuda, persoalan hukum dan konstitusionalitas Pasal 7 Huruf R yaitu adanya kesalahan subjek. Maka itu, pembebanan hak dan kewajiban (rechten en plichten) dalam Pasal yang diuji adalah salah.
Seharusnya, kata Rifqinizamy Karsayuda,, yang diberikan kewajiban adalah petahana, bukan calon, apalagi keluarga Petahana, yang tidak memiliki hubungan hukum apapun.
Dilanjutkan Dr. Rifqinizamy Karsayuda,, dari hasil data Pilkada selama periode 2010-2013, calon yang memiliki hubungan dengan petahana yang maju dalam Pilkada hanya sedikit yang menang, sekitar 42%, mayoritas kalah (58%). "Jadi kemenangan dalam Pilkada tidak ditentukan semata-mata oleh adanya hubungan dengan Petahana, namun oleh banyak factor,” tegasnya.
Sementara Kuasa Hukum Pemohon, Andi Syafrani mengatakan persidangan nantimerupakan sidang yang sangat istimewa karena sidang ini disaksikan oleh para Sekretaris Jenderal dan utusan dari Mahkamah Konstitusi atau sejenisnya negara-negara Asia yang kebetulan hadir di MK dalam rangka persiapan pertemuan MK se-Asia pada bulan depan, 15-17 Juni 2015, yang akan diselenggarakan di Indonesia selaku Ketua MK se-Asia.
Sidang ini merupakan sidang terakhir dengan agenda pembuktian. Selanjutnya Para Pemohon diminta untuk menyampaikan Kesimpulan tertulis ke MK paling lambat tanggal 4 Juni 2015. Putusan diperkirakan akan dibacakan oleh MK pada pertengahan atau paling lambat akhir Juni. "Yang pasti putusan ini akan dibacakan sebelum KPU melaksanakan tahapan penerimaan pendaftaran pasangan calon Pilkada pada pertengahan Juli nanti,” tandasnya
Tampilkan postingan dengan label M. Rifqinizamy Karsayuda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label M. Rifqinizamy Karsayuda. Tampilkan semua postingan
Kamis, 15 Desember 2016
Minggu, 13 November 2016
POLITIK BALAS BUDI
Opini JawaPos, 19/8/2015
oleh Djoko Susilo
KEMENTERIAN Luar Negeri RI
mendapat kado istimewa pada hari ulang tahun ke-70 yang jatuh hari ini (Rabu,
19 Agustus). Kado istimewa itu berupa daftar nama 33 calon duta besar (Dubes)
RI yang sepertiganya (11 orang) merupakan mantan anggota tim relawan Jokowi-JK
dalam pilpres tahun lalu.
Daftar nama tersebut sudah lama
menjadi gunjingan atau rasan-rasan di kalangan korps diplomatik RI. Sebab, baru
kali ini ’’campur tangan’’ presiden terhadap korps diplomat profesional terjadi
terlalu jauh dan dalam jumlah yang signifikan, yakni dengan mengajukan calon
Dubes nonkarir sampai hampir 33 persen dari pos yang akan diisi.
![]() |
| Rifqinizamy Karsayuda |
Memang, tidak ada aturan tertulis
yang dilanggar dalam penunjukan calon duta besar dari kalangan relawan politik
presiden pemenang pemilu tersebut. Hanya, para diplomat menggunjingkan hal itu
karena beberapa alasan.
Pertama, sejak masa Presiden
Soeharto sampai terakhir masa kepresidenan SBY, terdapat kesepahaman antara
Komisi I DPR dan Kemenlu bahwa jumlah Dubes nonkarir dalam setiap angkatan
hanya 10–15 persen. Hal itu dilakukan untuk menjaga tidak terganggunya
perencanaan karir korps diplomatik RI yang harus berjuang puluhan tahun guna
mencapai jabatan Dubes yang merupakan puncak karir seorang diplomat.
Kedua, pengangkatan duta besar
dari kalangan nonkarir bukan sekadar balas jasa politik, tetapi juga
mempertimbangkan pengalaman yang bersangkutan.
Namun, kali ini, Presiden Jokowi
dinilai telah kebablasan dalam memaksakan kehendaknya. Memang benar bahwa
seorang duta besar adalah wakil pribadi seorang kepala negara sekaligus
mewakili pemerintah negaranya. Penunjukan seseorang untuk menjadi duta besar
adalah hak prerogatif presiden, sama dengan pengangkatan seseorang menjadi
menteri atau anggota kabinet. Jadi, presiden memang mempunyai kuasa mutlak.
Namun, kuasa mutlak presiden tentu harus dilaksanakan dengan mempertimbangkan
berbagai faktor. Misalnya, kualitas calon, pengalaman profesional, dan beberapa
aspek non politis lainnya.
Penunjukan para calon duta besar
tahun ini merupakan yang pertama dilakukan Jokowi. Beberapa waktu lalu, dia
melantik sejumlah duta besar RI. Namun, proses seleksi dan pengangkatannya
masih di bawah Presiden SBY. Hampir tidak ada masalah yang berarti, kecuali
hanya duta besar RI Totok Riyanto yang mengalami penundaan ketika akan
menyerahkan surat kepercayaan kepada presiden Brasil lantaran eksekusi gembong
narkoba asal negara itu. SBY selama ini menyerahkan proses seleksi sepenuhnya
di Kemenlu dengan sedikit pengecualian. Karena itu, hampir tidak pernah timbul
keresahan atau gejolak di kalangan para diplomat karir di Pejambon.
Seleksi kali ini menimbulkan
sejumlah keresahan lantaran sedikitnya dua hal. Konon, semula Jokowi
menghendaki separo calon duta besar berasal dari para relawan atau
pendukungnya. Dia pun menghendaki mereka ditempatkan di pos-pos strategis
seperti PBB di New York, Jenewa, atau negara-negara besar seperti Rusia, Belanda,
dan London. Lebih rumit, beberapa kelompok relawan, kabarnya, mengirimkan
nama-nama tokohnya untuk menjadi Dubes langsung ke Kemenlu tanpa koordinasi ke
Sekretariat Negara sebagaimana lazimnya selama ini.
Menlu Retno Marsudi, sebagai
diplomat karir, memproses dan menyeleksi calon Dubes melalui proses baku, yakni
melalui lembaga ’’baperjakat’’ (badan pertimbangan jabatan dan kepangkatan)
Kemenlu. Tentu, daftarnya sesuai dengan persepsi kepentingan diplomasi RI.
Daftar tersebut ditolak Jokowi karena jatah relawan kurang banyak. Akhirnya,
setelah bolak-balik, dihasilkan 33 nama yang 11 di antaranya berasal dari para
relawan.
Memang, di antara sejumlah nama
relawan yang diajukan Jokowi, ada yang tepat dan sangat layak menduduki pos
yang diusulkan. Misalnya, Dr Rizal Sukma yang saat ini menjabat direktur
eksekutif CSIS dan ketua Biro Hubungan Luar Negeri PP Muhammadiyah. Rizal
diajukan untuk menjadi calon duta besar untuk UK merangkap Republik Irlandia.
Namun, beberapa nama lainnya
kurang memenuhi kriteria minimal sebagai calon duta besar. Pengalamannya hanya
aktif dalam sebuah ormas dan kemudian menjadi relawan Jokowi.
Tentu, hal yang demikian menjadi
keprihatinan sebagian kalangan korps diplomatik. Sebab, duta besar adalah wakil
negara dan bangsa. Kalaupun dia tidak berasal dari diplomat karir, diharapkan
calon yang bersangkutan menunjukkan kapasitas sebagai calon diplomat dan
memiliki pengetahuan dasar diplomasi yang mumpuni.
Banyaknya relawan Jokowi sebagai
calon Dubes nonkarir jelas meresahkan kalangan diplomat karir. Gelombang
pertama yang ’’hanya’’ 30 persen kabarnya akan disusul badai yang lebih
dahsyat.
Sebenarnya, kalangan korps
diplomat karir bisa menerima penunjukan Dubes nonkarir sebagai hak prerogratif
presiden. Tetapi, hak tersebut semestinya tidak digunakan secara semena-mena.
Pertama, calon yang diangkat mesti menunjukkan kualitas minimal calon diplomat.
Kecakapan bahasa asing, khususnya Inggris, harus paripurna.
Kedua, calon memiliki pengalaman
profesional di bidangnya secara memadai. Ketiga, jumlah alokasi tidak sangat
besar hingga mencapai sepertiga angkatan atau lebih.
Sudah seharusnya Presiden Jokowi
memikirkan kepentingan diplomasi dan politik luar negeri Indonesia secara
komprehensif. *) Mantan Dubes RI untuk Swiss.
Rabu, 28 September 2016
Rifqinizamy Karsayuda; Layakkah Ahok dipilih kembali
Terlalu riskan bila Ahok dipilih kembali. Ahok terlalu
gaduh. Dia dihujani batu. Dukungan sejuta KTP ternyata fiktif dan tidak
membuktikan apa pun. Survei-survei sarat rekayasa. Manipulatif. Bila para
taipan dan pencari nasi bungkus memaksakan diri, Jakarta bisa dilanda
instabilitas di berbagai sektor. Paling cocok, Ahok diposisikan sebagai Kepala
PU atau penjaga kebersihan kota.
![]() |
| Rifqinizamy Karsayuda; Layakkah Ahok dipilih kembali |
Resistensi warga sulit padam. Arogansi dan kasar rupanya
adalah karakter Ahok. Inherent dan ingrained dalam struktur genetiknya. Belum
pernah ada seorang gubernur, kecuali Ahok, yang punya musuh satu republik.
Setiap hari ada saja yang diserang Ahok. Ya politisi, parpol
sebesar PDI-P diultimatum, warga miskin dicaci-maki. Historian dikatain goblok.
TNI dibuat tersinggung di masalah sampah Bantar Gebang. Pengusaha hotel
dipermalukan di depan publik. Ahok diam saja sewaktu mantan bosnya, Bang Yos
dibully Ahoker. Lembaga negara dicemooh dengan istilah ngaco. Ahok terlalu
sering mengabaikan aturan; serapan anggaran rendah. Cuma Ahok yang sanggup usir
wartawan dan membiarkan Ahmadiyah beribadah di Bukit Duri. Sampai penggusuran
Pasar Ikan, LBH Jakarta merilis laporan Ahok menggusur 8.145 KK dan memberangus
6.283 unit usaha di 113 titik penggusuran.
Kesuksesan kerja Ahok hanya ada di dunia fantasi. Faktanya,
Pertumbuhan Ekonomi turun 0,16%. Inflasi naik 0,95%. Gini Rasio meningkat
7,20%. Penduduk Miskin bertambah 3,72%. Akuntabilitas Kinerja Provinsi hanya
58,57 (hanya urutan 18 dari 34 Provinsi). Realisasi Pendapatan Daerah cuma
66,8% (urutan buncit dari semua provinsi). Penyerapan Anggaran hanya 59,32 %
(terburuk se-Indonesia). Peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM): hanya
0,31 (nomor 1 dari bawah dari 34 provinsi se-Indonesia).
RifqinizamyKarsayuda; Layakkah Ahok
Hebatnya, Ahok bisa lolos dari berbagai skandal korupsi;
Pengadaan Bus Trans Jakarta, Pengadaan UPS, Pembelian Tanah Sumber Waras, Tukar
Guling Lahan Taman BMW, Sindikasi Reklamasi Pulau dan pembelian lahan
Cengkareng Barat.
Kedatangan Ahok ditolak di berbagai tempat; Koja, Kalideres,
Kapuk Muara dan Penjaringan. Ketua RT/RW se-Jakarta menyatakan “Bukan Teman
Ahok”. Saya sulit membayangkan efektifitas kerja seorang kepala daerah bila
kedatangannya ditolak warga. Bahkan untuk acara sederhana seperti peresmian
taman, Ahok harus lari tunggang langgang. Polres mesti kerahkan 500 personil,
belum lagi pengerahan prajurit TNI dan Satpol PP. Plus bonus korban timpukan
batu dan dua pelajar PSKD ditangkap. Ahok sungguh high cost.
Economically, Ahok juga high cost. Relawan Andreas bilang
Podomoro alirkan dana 30 milyar kepada Teman Ahok untuk ngepul sejuta KTP.
Belum lagi donasi teri dari ‘warga kena tipu’ yang sumbang jam dinding,
printer, cetak kaos, ball poin dan sebagainya. Teman Ahok bikin booth di banyak
mall. Saya kira itu ada biayanya. Pasti ada budget bayar tim Cyrus Network,
beli slot acara di MetroTV, bayar media, bayar upah buzzer dan pembully. At the
end, Ahok memilih jalur partai politik. Jadi, seluruh “perjuangan”
relawan-bayaran dan donatur menguap begitu saja.
Politically, Ahok ngga kalah high-costly. Dia hendak
mendelegitimasi partai politik. Tanpa partai politik, tidak ada demokrasi.
Semua politisi, kecuali Ahok dan teman-temannya, adalah politisi busuk, pencari
panggung dan koruptor. Pengumpulan KTP dan booth-booth (yang kerap dicaci maki
pengunjung mall) merupakan bentuk dari kampanye terselubung dan “ilegal”. In
another parlance, Ahok mencuri start.
Manuver “kutu loncat” Ahok bukan ciri pejuang politik. Di
situ, Ahok jadi figur tanpa loyalitas. Statemen blak-blakan seperti “Tuhan aja
gua lawan” cuma bikin Ahok tampak gak mutu. Dia tegas bilang ibunya pun bakal
dia usir kalo bikin susah. Bahkan Malin Kundang tidak berpikir mengusir mamanya
sendiri.
RifqinizamyKarsayuda kontroversi Ahok
Socially, Ahok menjadi akar ketegangan rasial dan
primordialisme. Sentimen anti Tionghoa naik. Ahok memicu over-confident
golongan minoritas (etnis dan agama) untuk ngebully dan mencaci maki opponent.
Berbeda dengan kader partai, Ahoker bersifat liar tak terkendali. Tak seperti
kader partai, para free men Ahoker ini tidak pernah mengikuti rangkaian LDK,
kurpol atau diklat terstruktur dan sistematis. Gerakan dan opini mereka
sepenuhnya didasari sentimen like & dislike.
Seluruh faktor di atas menjadikan Ahok berpotensi
menciptakan konflik horisontal dan vertikal. Kondisi semacam ini sangat tidak
kondusif bagi bisnis. Secara praktis, Ahok bikin Jakarta lebih macet dan rentan
banjir. Kegiatan ekonomi mikro jadi terganggu. Produktifitas salesmen menurun.
Entah berapa banyak agenda meeting harus direscheduling akibat pembangunan enam
jalan tol dan betonisasi bantaran sungai. Para taipan hendaknya berpikir ulang
untuk membacking Ahok. He’s too costly.
Minggu, 12 Juni 2016
SURAT PERINGATAN UNTUK MOJOK.CO
M. Rifqinizamy Karsayuda
Saudara masih percaya dengan pepatah satu ini; sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh jua. Saya percaya itu, Saudara. Dan pepatah itu berlaku dengan salah satu media maenstrim bernama “Mojok.co”.
siapakah Rirqinizamy Karsayuda
Awalnya saya bukan pembaca Mojok.co, karena bagi saya Mojok.co tidak pernah “nyambung” dengan gerakan, tetapi saya berhasil melawan diri saya sendiri. Mojok.co pun saya baca juga akhirnya setelah muncul satu tulisan http://mojok.co/2016/05/mandiri-artjog/ yang ditulis oleh salah satu penulis “ngehek” bernama Agus Mulyadi.
Setelah membaca tulisan “sampah” itu, jujur, Saudara, saya menjadi geram dengan Mojok.co. Dan kegeraman itu saya luapkan melalui surat peringatan ini. Bagaimana tidak. Moncong si Agus Mulyadi itu omong bahwa seorang Artsy atau “nyeni” harus bisa bertoleran. Bertoleran kepala kau, pukimak!
M. Rifqinizamy Karsayuda
Dari tulisan Agus Mulyadi itu, jelas, Mojok.co melakukan pembelaan terhadap penyelenggara Art Jog (#ArtJOKE) yang disponsori oleh PT. Freeport. Dan jelas pula di sini, bahwa Mojok.co telah ikut serta menjadi bagian penindas masyarakat di Papua.
Maka dari itu, melalui surat peringatan ini, saya menghimbau kepada seluruh rakyat di Indonesia, khususnya di Jogja untuk melakukan pemboikotan terhadap dua mesin penindas dan corong korporasi besar ini; Art Jog (#ArtJOKE) dan Mojok.co. Tak bisa tidak. Jika ini dibiarkan begitu saja, maka saya yakin seyakin-yakinnya, akan banyak lagi mesin penindas yang akan bermunculan.
M. Rifqinizamy Karsayuda
Sekali lagi kepada Mojok.co melalui surat peringatan ini saya beritahukan bahwa sebentar lagi kau akan DIBAKAR massarakyat. Tunggu saja.
Dan tidak ketinggalan pula saya berpesan kepada Phutut EA selaku pengelola Mojok.co dan Agus Mulyadi selaku penulis Mojok.co yang kini berada di jembatan kehancuran untuk lebih jeli lagi melihat apa yang terjadi. Percayalah, api ini makin hari kian membesar
#ArtJOKE #Mohok
Yogyakarta, 12 Juni 2016, Yasir Dayak.
Sumber: https://enggangjantan.wordpress.com/2016/06/12/surat-peringatan-untuk-mojok-co/
Djoni Suyanto
Saudara masih percaya dengan pepatah satu ini; sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh jua. Saya percaya itu, Saudara. Dan pepatah itu berlaku dengan salah satu media maenstrim bernama “Mojok.co”.
siapakah Rirqinizamy Karsayuda
Awalnya saya bukan pembaca Mojok.co, karena bagi saya Mojok.co tidak pernah “nyambung” dengan gerakan, tetapi saya berhasil melawan diri saya sendiri. Mojok.co pun saya baca juga akhirnya setelah muncul satu tulisan http://mojok.co/2016/05/mandiri-artjog/ yang ditulis oleh salah satu penulis “ngehek” bernama Agus Mulyadi.
Setelah membaca tulisan “sampah” itu, jujur, Saudara, saya menjadi geram dengan Mojok.co. Dan kegeraman itu saya luapkan melalui surat peringatan ini. Bagaimana tidak. Moncong si Agus Mulyadi itu omong bahwa seorang Artsy atau “nyeni” harus bisa bertoleran. Bertoleran kepala kau, pukimak!
M. Rifqinizamy Karsayuda
Dari tulisan Agus Mulyadi itu, jelas, Mojok.co melakukan pembelaan terhadap penyelenggara Art Jog (#ArtJOKE) yang disponsori oleh PT. Freeport. Dan jelas pula di sini, bahwa Mojok.co telah ikut serta menjadi bagian penindas masyarakat di Papua.
Maka dari itu, melalui surat peringatan ini, saya menghimbau kepada seluruh rakyat di Indonesia, khususnya di Jogja untuk melakukan pemboikotan terhadap dua mesin penindas dan corong korporasi besar ini; Art Jog (#ArtJOKE) dan Mojok.co. Tak bisa tidak. Jika ini dibiarkan begitu saja, maka saya yakin seyakin-yakinnya, akan banyak lagi mesin penindas yang akan bermunculan.
M. Rifqinizamy Karsayuda
Sekali lagi kepada Mojok.co melalui surat peringatan ini saya beritahukan bahwa sebentar lagi kau akan DIBAKAR massarakyat. Tunggu saja.
Dan tidak ketinggalan pula saya berpesan kepada Phutut EA selaku pengelola Mojok.co dan Agus Mulyadi selaku penulis Mojok.co yang kini berada di jembatan kehancuran untuk lebih jeli lagi melihat apa yang terjadi. Percayalah, api ini makin hari kian membesar
#ArtJOKE #Mohok
Yogyakarta, 12 Juni 2016, Yasir Dayak.
Sumber: https://enggangjantan.wordpress.com/2016/06/12/surat-peringatan-untuk-mojok-co/
Djoni Suyanto
Langganan:
Postingan (Atom)

